DENGAN MEMBACA KITA MEMBUKA JENDELA DUNIA

Minggu, 24 Maret 2013

Raden Mas Terakhir (Surga Kedua Bagian satu)

Hari keduabelas setelah perayaan Idul Fitri, malam begitu digin menyapa para tamu undangan disebuah acara hajatan yang digelar oleh keluarga R.M Suryo Notodwihardjo seorang tokoh adat yang disegani di perkampungan Kalimati, malam itu semua warga berkumpul demi menantikan kelahiran putra pertama sekaligus pewaris gelar "raden mas" di kampung tersebut. Nampaknya tak hanya Den Suryo saja yang bergembir seluruh wargapun antusias menunggu malam itu, malam yang terasa panjang.

Hampir tengah malam prosesi kelahiran masih berjalan, didalam sana Rara Ayu Setyaningsih sedang berjuang utuk melahirkan putra pertamanya.
"nduk" kata ibu dukun lirih ditelinga Nimas Ayu, 
"iya mbok, saya sudah tidak kuat mbok" balas Nimas Ayu seraya menggengam erat tangan mbok Darmi, dukun bayi dari dukuh Panjalu, Kalimati
"sabar nduk, bayinya nyungsang" bisik mbok darmi untuk menguatkan Nimas Ayu
"mbok tolong saya, rasanya saya hampir mati" bisik nya pelan .

Nimas Ayu pingsan tubuhnya melemah setelah berjam jam berusaha melahirkan putranya, warga yang tadinya gembira nampak cemas, ada gurat kekhawatiran didiri mereka masing masing, proses kelahiran masih berlanjut, perjuangan yang panjang hingga akhirnya Subuh menjelang, diiringi terikan keras bayi mungil dari rahim Nimas Ayu.

Suasana gembira bercampur sedih, nimas ayu tidak tertolong , setelah proses melahirkan nimas ayu maengalami pendarahan hebat, dia menutup mata utuk selamanya dengan senyuman yang paling indah, yang mungkin akan dirindukan oleh bayi mungil untuk selamanya

*****

Lima tahun berlalu , warga telah terbiasa tanpa kehadiran nimas ayu yang dulu mengajari mereka membaca,menulis,berhitung dan ketrampilan lainya. akan tetapi pondok bambu tempat iya mengajar dulu masih terawat rapi, pondok itu dijaga oleh Parmin dan istrinya Supinah , mereka telah berjanji akan setia menjaga pondok itu walaupun sekarang sudah tidak ada lagi yang ke pondok itu.
Parmin dan Supinah senang karena sesekali Den Suryo mengajak putra semata wayangnya R.M Anteng Notodwihardojo bermain ke pondok itu, Den Anteng nampaknya suka dengan suasana dipondok, mungkin karena dulu itu adalah tempat ibunya menghabiskan waktu sehari harinya.

Seperti hari ini den anteng yang menginjak usia lima tahun sedang bermain main dihalaman pondok, ia namapak gembira berlari,bernyanyi mengejar kawanan kupu kupu yang berterbangan di sekeliling bunga, den suryo pun tersenyum, walau gurat kesedihan masih nampak padanya, 
"seandainya Nimas ayu masih ada , mungkin ia akan merasa bahagia putranya kini tumbuh sehat,dan pintar" kata den suryo kepada parmin,
"iya iya den" jawab parmin tergagap , ia sedari tadi melamun melihat den anteng yang sedang bermain di halaman pondok. "nimas ayu pasti bahagia den, disana" lanjut parmin.kini fokusnya kepada majikanya yang ada didepannya, mereka mengobrol lama tentang kehidupan, rejeki, kematian dan semuanya. Den mas suryo tersadar ia mendapat banya pelajaran dari seorang parmin, yang hanya penjaga pondok.

*****

"tak ada hidup yang sempurna,hidup itu saling melengkapi" kata kata itu masih terngiang jelas di hati den suryo, kata kata bijaksana dari penjaga pondok milik mendiang istrinya. Kata kata inilah yang membuat den suryo berubah. tak ada seorangpun yang tahu ketika pada akhirnya kelak den suryo beserta anaknya tak menyandang gelar R.M lagi. namun den suryo punya alasan tersendiri ia telah menemukan surga kedua didalam diri anaknya...

Lanjut ke Bag Surga kedua bg 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda membantu saya untuk lebih giat dalam menulis